BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Dalam sistem
transportasi perkotaan di Wilayah Kota
Denpasar, ruas Jalan Imam Bonjol berfungsi sebagai jalur penghubung antara Kota
Denpasar dengan Kabupaten Badung di wilayah selatan pulau Bali, yang memiliki
peranan strategis bagi pengembangan wilayah tujuan pariwisata. Jalan Imam Bonjol
juga berperan sebagai jalur perbatasan antara
daerah Kotamadya Denpasar
dan kabupaten Badung yang sedang mengalami
pertumbuhan penduduk, industri dan perdagangan.
Ditinjau dari klasifikasi
fungsi jalan, jalan Imam Bonjol sebagai jalan kolektor
primer, jalan yang menghubungkan kota jenjang kedua dengan kota jenjang kedua atau
menghubungkan kota jenjang kedua dengan kota jenjang ketiga. Dengan demikian jalan ini sangat berperan penting dalam melayani
dan melewatkan arus lalu lintas yang cukup besar. Namun kenyataannya pada jalan
ini sering terjadi kepadatan jumlah kendaraan yang di tambah dengan hambatan
samping seperti in-out kendaran
misalnya d’gool futsal, kendaraan
henti, pejalan kaki maupun parking on
street. Bercampurnya jenis lalu-lintas yang terganggu hambatan samping
tersebut menyebabkan kemacetan dan volume lalu-lintas yang cukup besar pada
ruas jalan Imam Bonjol.
Selain itu, seiring
terjadinya perkembangan jumlah penduduk kota Denpasar per
tahun dalam rentang waktu 2000-2010 adalah sebesar 4 % (SP Denpasar 2010) dan meningkatnya pergerakan masyarakat, terutama pada
periode pagi, siang dan sore hari, serta meningkatnya jumlah kepemilikan kendaraan
dan berubahnya pola penggunaan lahan yang cukup pesat semakin menambah padatnya
volume lalulintas yang melewati ruas jalan ini. Pentingnya peranan jalan Imam
Bonjol mengakibatkan terjadinya akumulasi beban arus lalu lintas, antara lain
terjadinya penumpukan kendaraan, tundaan lalu lintas dan antrian kendaraan,
terjadi tundaan waktu perjalanan ( delay ), serta menurunnya tingkat
pelayanan jalan Imam Bonjol. Tingginya volume kendaraan di ruas jalan Imam
Bonjol sebagai jalan kolektor primer, turut pula mempengaruhi terhambatnya
kelancaran kendaraan yang memasuki jalan ini yang secara keseluruhan berdampak
pula pada beban biaya perjalanan yang harus dipikul oleh para pengguna jalan
akibat tundaan yang terjadi.
Tundaan
sebagai bagian yang penting dari waktu perjalanan karena kendaraan yang bergerak
sangat berpotensi terhadap kemacetan dan kesemrawutan, maupun tundaan tetap
karena kapasitas dan volume lalu lintas (kepadatan dan keramaian). Tundaan yang
dimaksud pada wilayah studi adalah bertambahnya waktu perjalanan atau
terjadinya pengurangan kecepatan bergerak di bawah kecepatan yang dianggap
dapat diterima atau tingkat kesesuaian standar kecepatan jalan rencana. Tundaan terjadi karena
meningkatnya kepadatan lalu lintas, tingginya waktu tunda serta menurunnya kinerja
ruas jalan yang berdampak pada kenaikan biaya operasional kendaraan. Biaya
operasional kendaraan adalah semua biaya yang harus dikeluarkan oleh operator
atau pemilik kendaraan sehubungan kepemilikan dan pengoperasian kendaraan untuk
tujuan komersial ataupun pribadi. Biaya operasional terdiri dari biaya tetap
dan tidak tetap di mana biaya tidak tetap memiliki pengaruh yang lebih banyak
dan lebih bervariasi terhadap biaya operasional kendaraan secara keseluruhan. Studi
analisis biaya perjalanan akibat tundaan lalu lintas pernah dilakukan pada
jalan Teuku Umar pada tahun 2011 oleh Hery Sutiawan dengan besarnya biaya
tundaan sebesar Rp.4.795.684.059/tahun
Oleh karena itu, studi pengaruh
tundaan menjadi penting dalam menganalisis kinerja ruas jalan dan biaya
perjalanan akibat tundaan yang terjadi pada Jalan Imam Bonjol, khususnya pada ruas jalan
utama yang padat dan ramai lalu lintas. Sejauh ini belum pernah dilakukan
analisis kinerja ruas jalan dan biaya perjalanan akibat tundaan yang
terjadi pada jalan Imam Bonjol sehingga diharapkan nantinya dapat menambah
pengetahuan dan penelitian di bidang transportasi.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka dibuat
suatu rumusan masalah adalah:
1.
Bagaimana kinerja ruas jalan Imam Bonjol ?
2.
Berapakah besar biaya perjalanan akibat tundaan yang terjadi pada
jalan Imam Bonjol ?
1.3
Tujuan Penelitian
Secara spesifik tujuan dari
penelitian ini adalah:
1.
Untuk menganalisis kinerja ruas jalan Imam Bonjol.
2.
Untuk menganalisis besarnya biaya perjalanan akibat tundaan
yang terjadi pada jalan Imam Bonjol.
I.4 Manfaat
Penelitian
1.
Bagi mahasiswa, dapat mengetahui, memahami serta menambah
wawasan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi biaya perjalanan dan dapat
menganalisis biaya perjalanan yang diakibatkan oleh tundaan lalu lintas.
2.
Bagi pemerintah
daerah, dapat menjadikan bahan penelitian ini sebagai masukan dalam pemulihan kembali kinerja ruas jalan Imam Bonjol.
3.
Bagi masyarakat, dapat memberikan informasi lebih lanjut
dalam memperluas ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan pengaruh tundaan
terhadap biaya perjalanan.
I.5 Batasan
Masalah
Untuk memberikan arahan yang jelas dari penelitian ini
agar sesuai dengan tujuan yang dicapai dan karena keterbatasan waktu serta
luasnya permasalahan yang ada maka penulis membatasi beberapa hal yaitu :
1.
Analisis Biaya Operasional Kendaraan (BOK) dilakukan pada ruas
jalan yang mengalami tundaan, yaitu pada simpang Imam Bonjol-Gunung Soputan
sampai pada simpang Imam Bonjol-Pulau Galang.
2.
Asumsi bahan bakar yang digunakan untuk semua kendaraan
adalah premium dengan harga bahan bakar untuk tahun 2012 adalah Rp 4.500,00.
3.
Tundaan
lalu lintas yang dimaksud dalam studi ini adalah kemacetan sesaat yang
ditimbulkan oleh besarnya volume lalu lintas serta hambatan samping jalan.
4.
Mengingat
keterbatasan waktu, biaya dan surveyor maka survei dalam penelitian ini hanya
dilakukan satu hari saja.
5.
Parameter
yang digunakan mengukur tingkat pelayanan jalan adalah berdasarkan derajat
kejenuhan jalan (Q/C).
6.
Analisis
BOK sepeda motor menggunakan metode
Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ) tahun 1999 yang kemudian di sesuaikan
dengan laju pertumbuhan inflasi.
7.
Komponen
yang dijadikan acuan penilaian dampak biaya perjalanan akibat tundaan adalah
biaya operasional kendaraan, nilai waktu perjalanan, volume dan waktu tempuh
perjalanan.
8.
Besarnya
biaya perjalanan akibat adanya
tundaan lalu lintas diukur dalam
satuan rupiah per tahun.
9.
Data-data
harga komponen BOK yang digunakan adalah harga pasar terkini.
10. Prilaku para pengemudi kendaraan tidak diperhitungkan
dalam penelitian ini.
11. Mengingat keterbatasan alat pengukuran kekasaran jalan
dalam studi ini tidak dilakukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar