Senin, 03 Desember 2012

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III
METODE PENELITIAN

Pada metode penelitian terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan untuk mendapatkan hasil dari penelitian yang meliputi studi pendahuluan untuk mengetahui karakteristik ruas jalan, kemudian dilanjutkan dengan penentuan lokasi survei. Langkah selanjutnya adalah identifikasi permasalahan merupakan pengenalan permasalahan yang akan dibahas. Lalu dilanjutkan dengan pengumpulan data sekunder dan data primer. Data sekunder yang dicari adalah, data Pendapatan Daerah Regional Bruto (PDRB), data harga komponen kendaraan untuk perhitungan BOK. Sedangkan untuk data primer, data yang diperlukan adalah data geometrik ruas jalan, kecepatan, hambatan samping dan data volume lalu lintas. Dari data primer dan data sekunder dapat dianalisis kinerja ruas jalan saat ini.
Untuk mendapatkan besarnya biaya perjalanan dilakukan analisis biaya yang ditimbulkan sebagai akibat tambahan waktu perjalanan para pengguna ruas jalan yang meliputi beberapa komponen yaitu volume lalu lintas, waktu tempuh perjalanan, biaya operasional kendaraan dan nilai waktu perjalanan. Selanjutnya dilakukan perbandingan antara biaya yang dikeluarkan saat kondisi macet dengan biaya saat kondisi ideal (kecepatan arus bebas), sehingga di dapat selisih biaya perjalanan. Kemudian dilanjutkan dengan simpulan dan saran.











3.1              Kerangka Analisis





Pemilihan Lokasi
 


Ruang Lingkup dan Batasan Masalah
 

 


                                                                                                             


Studi Pendahuluan
 
 
                                                                                               


 



Data Sekunder
 
Data Primer
 
                                                                                             
















Survei
Volume Lalu Lintas
 

Survei
Kecepatan Perjalanan
 

Survei
Geometrik Jalan
 

Hambatan Samping
 





q  PDRB
q  Harga komponen BOK

 

 
                                     









 


















                                               


 









Gambar 3.1 Kerangka Analisis Studi
3.2       Lokasi Studi  
Dalam penelitian ini dipilih ruas Jalan Imam Bonjol Denpasar dari simpang Imam Bonjol-Gunung Soputan sampai pada simpang Imam Bonjol-Pulau Galang dengan panjang segmen 1 kilometer sebagai lokasi penelitian karena pada ruas jalan ini terdapat aktivitas di samping jalan yang menimbulkan hambatan samping jalan serta volume kendaraan yang melewati ruas jalan ini sangat padat namun pelebaran jalan tidak memungkinkan sehingga terjadi tingkat tundaan lalu lintas yang cukup tinggi terutama pada jam-jam sibuk. Hal ini disebabkan karena jalan ini merupakan salah satu jalan utama yang dipilih untuk menuju tempat-tempat aktivitas, sehingga memiliki volume lalu lintas yang cukup padat dan hambatan samping yang tinggi. Selain itu pada kawasan ini terdapat perkantoran, toko–toko, serta perumahan yang dapat menimbulkan berbagai hambatan samping seperti keluar masuknya kendaraan di sekitar pusat perdagangan dan perkantoran. Untuk itu perlu dilakukan studi tentang besarnya biaya perjalanan yang terjadi sebagai akibat dari tundaan lalu lintas dalam satuan rupiah per tahun. Lokasi studi penelitian ini ditunjukkan pada Gambar 3.2 dan pada lampiran A.
Text Box:
Gambar 3.2 Peta Jalan Imam Bonjol
Sumber: Google maps (2011)
3.3  Studi Pendahuluan
Dari studi pendahuluan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan beberapa gambaran awal mengenai karakteristik ruas ruas Jalan Imam Bonjol Denpasar mulai dari simpang Imam Bonjol – Gunung Soputan sampai pada simpang Imam Bonjol – Pulau Galang berdasarkan pengamatan secara menyeluruh, dapat diketahui bahwa ruas jalan ini mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1.      Jalan Imam Bonjol memiliki volume lalu lintas yang cukup padat serta hambatan samping yang tinggi.
2.      Jalan Imam Bonjol merupakan salah satu akses menuju kawasan tujuan pergerakan (traffic generator).
3.      Kecepatan kendaraan kadang melambat bahkan kadang terhenti pada ruas jalan ini umumnya terjadi saat masyarakat menjalankan aktivitas sehari– hari atau pada saat jam sibuk. Dengan adanya hambatan samping seperti parkir pinggir jalan (on street parking) yang memperkecil lebar jalan, pejalan kaki yang menyeberang jalan, digunakannya badan jalan oleh pejalan kaki, kendaraan umum dan pribadi yang berhenti sehingga menimbulkan tundaan dalam perjalanan.

3.4       Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan untuk menunjang permasalahan yang dibahas meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan. Data primer pada penelitian ini adalah:
a.         Kondisi geometrik jalan seperti lebar lajur, tinggi kerb, dan panjang jalan.
b.         Aktivitas di sekitar ruas jalan, hambatan samping.
c.         Kondisi lalu lintas pada lokasi penelitian yaitu volume lalu lintas, pencatatan kendaraan berdasarkan jenis dan arah pergerakan.
d.        Kecepatan kendaraan yang melintas pada ruas jalan ini.
Data sekunder adalah data yang didapatkan dari sumber yang lain, sumber ini didapat dari instansi pemerintah, instansi swasta yang antara lain dapat berupa laporan penelitian, laporan hasil sensus, peta, dan foto. Data sekunder ini akan mendukung data primer dalam melakukan penganalisaan tujuan penelitian. Adapun survei-survei yang dilakukan adalah sebagai berikut:
3.4.1    Survei Inventarisasi Geometrik Ruas Jalan
Data inventarisasi geometrik ruas jalan seperti lebar lajur, lebar bahu jalan dan panjang jalan didapatkan melalui pengukuran langsung dilokasi ruas jalan dengan cara manual.
a)      Waktu pelaksanaan
Survei ini dilakukan pada hari kerja dan malam hari, karena pada hari kerja dan malam hari kondisi lalu lintas tidak akan begitu ramai seperti pagi, siang atau sore hari sehingga mempermudah proses pengambilan data.
b)      Jumlah surveyor
Pada pelaksanaanya diperlukan 3 orang surveyor, 2 orang surveyor bertugas mengukur data yang diperlukan sedangkan seorang lagi bertugas mencatat.
c)      Alat survei
Adapun peralatan yang digunakan dalam melaksanakan survei ini adalah:
1.      Alat ukur berupa meteran rol (30 m).
2.      Kompas.
3.      Alat tulis.
4.      Formulir survei.
d)     Cara pelaksanaan
Proses pengukuran dilakukan dengan menggunakan meteran 30m. Adapun tahap pelaksanaannya adalah :
  1. Pengukuran di mulai dari simpang Imam Bonjol-Gunung Soputan sampai pada simpang Imam Bonjol-Pulau Galang.
  2. Pengukuran dilakukan berulang-ulang dengan menggunakan meteran 30m. Setelah mencapai 30m di beri tanda dengan menngunakan lak ban.
e)      Data inventarisasi geometrik ruas jalan yang diperlukan dapat dilihat pada Gambar 3.3 berikut.




 
JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS UDAYANA
FORMULIR SURVEI INVENTARISASI JALAN

LOKASI :

Jalan Imam Bonjol Denpasar

Kota
Denpasar
Tanggal

Waktu

Cuaca

Surveyor

Nama Jalan
Imam Bonjol




Data geometrik jalan :
1.       Nama Jalan                                  :
2.       Panjang Segmen                          :
3.       Tipe Daerah                                  :
                                     Pemukiman, hampir tidak ada kegiatan
                                     Pemukiman, beberapa angkutan umum, dll
                                     Daerah industri dengan toko – toko disisi jalan
                                     Daerah niaga dengan aktivitas sisi jalan yang tinggi
                                     Daerah niaga dengan aktivitas pasar sisi jalan yang sangat tinggi
4.       Tipe Jalan                                     :
                                     Jalan dua lajur – dua arah – tak terbagi ( 2/2UD )
                                     Jalan empat lajur – dua arah – tak terbagi ( 4/2 UD )
                                     Jalan empat lajur – dua arah – terbagi ( 4/2 D )
                                     Jalan enam lajur – dua arah – terbagi ( 6/2D )

5.       Lebar Jalur ( Wj )                         :
6.       Lebar Lajur ( WI )                       :
7.       Lebar Median ( Wm ) :
8.       Lebar Bahu ( (Wb )     :
9.       Lebar Kereb ( Wk )      :

Gambar 3.3 Formulir survei inventarisasi geometrik ruas jalan

3.4.2    Survei Hambatan Samping Jalan
Hambatan samping adalah dampak dari kinerja lalu lintas dari aktivitas samping segmen jalan, seperti pejalan kaki (bobot 0,5), kendaraan umum/kendaraan lain berhenti (bobot 1,0), kendaraan masuk/keluar sisi jalan (bobot 0,7) dan kendaraan lambat (bobot 0,4). Data hambatan samping jalan digunakan dalam perhitungan kapasitas jalan, dimana dalam studi ini hambatan samping jalan ditentukan berdasarkan pada Tabel 2.2 yang disesuaikan dengan kondisi lokasi penelitian.

3.4.3    Survei Volume Lalu Lintas pada Ruas Jalan
Survei volume lalu lintas bertujuan untuk mencatat setiap kendaraan yang lewat (melewati suatu titik atau garis tertentu). Dari hasil survei ini digunakan untuk menganalisis kinerja ruas jalan.

3.4.3.1 Survei Kamera Video
Survei volume lalu lintas dilakukan dengan cara pemasangan kamera CCTV (Closed-Circuit Television), yaitu perekaman lalu lintas menggunakan CCTV selama periode waktu survei. Data yang didapat kemudian disimpan secara otomatis dalam memori Handycam yang telah disediakan sebelumnya. Selanjutnya dilakukan penghitungan jumlah kendaraan berdasarkan klasifikasinya secara manual. Klasifikasi dalam penelitian ini menggolongkan kendaran menjadi lima macam, yaitu:
1.      Truk (Heavy Vehicle/HV) yaitu kendaraan bermotor dengan lebih dari 4 roda dengan jarak as lebih dari 3.5 m. Meliputi : truk 2 as, truk 3 as, dan truk kombinasi sesuai sistem klasifikasi Bina Marga.
2.      Bus yaitu Kendaraan berat dengan jarak as lebih dari 3,5 m.
3.      Kendaraan ringan (Light Vehicle/LV) yaitu kendaraan bermotor ber as 2 dengan roda empat dan jarak as 2.0 – 3.0 m. Meliputi : mobil penumpang, mikrobis, pick up, dan truk kecil sesuai dengan klasifikasi Bina Marga.
4.      Sepeda motor (Motor Cycle/MC) yaitu kendaraan bermotor dengan 2 atau 3 roda, meliputi : sepeda motor dan kendaraan roda tiga sesuai dengan sistem Bina Marga.
5.      Kendaraan tak bermotor (Un-motorized/UM) yaitu kendaraan tanpa mesin/motor, baik yang beroda 2 atau lebih, seperti : sepeda, becak, dan kendaraan yang tidak bermotor sesuai dengan sistem Bina Marga.

a)      Waktu pelaksanaan
Pelaksanaan survei untuk pengumpulan data adalah dalam bentuk observasi langsung dilokasi studi berupa survei volume lalu lintas. Survei ini dilakukan pada Hari Selasa 28 Februari 2012 dari pukul 06.00-18.00 wib.
Periode waktu survei dilaksanakan dalam waktu 12 jam tanpa jeda, hal ini dipilih untuk mempermudah mengetahui jam puncak pergerakan lalu lintas dalam satu hari penuh (jam kerja).

b)     Alat survei
Peralatan yang diperlukan dalam survei ini antara lain :
o  Kamera Video
o  Laptop
o  Kontrol Monitor
o  Kabel Roll
o  Tiang dari besi
o  Genset
o  Pelindung alat dan sambungan kabel (jas hujan, lakban, plastic bening)
o  Alat pelengkap (meteran, alat tulis, kamera digital)
o  Alat untuk perhitungan (lembar kerja, pulpen, kalkulator)

c)      Jumlah dan penempatan CCTV
Jumlah CCTV yang diperlukan dalam survei volume lalu lintas adalah sebanyak 1 buah sesuai dengan jumlah segmen yang direncanakan yaitu segmen simpang Imam Bonjol-Gunung Soputan sampai pada simpang Imam Bonjol-Pulau Galang dengan penempatan sebagai berikut:
CCTV
 
Text Box: Jl. Pulau Galang
Gambar 3.4 Penempatan CCTV
Sumber : Google Map (2011)

d)     Langkah-langkah survei volume lalu lintas
Alat untuk merekam volume lalu lintas di ruas jalan diletakkan pada posisi yang telah ditentukan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.2. CCTV berfungsi untuk merekam pergerakan lalu lintas di Jalan Imam Bonjol, dimana CCTV diletakkan di barat jalan yang ditinjau.

3.4.3.2 Survei Pencatatan Volume Lalu Lintas
Setelah perekaman dilapangan selesai, selanjutnya video hasil rekaman di lapangan di pisah (split) tiap 15 menit, dilakukan pengumpulan data selama 12 jam. Pengumpulan data yang diperlukan dilakukan dengan bantuan software Ulead Video Studio 10 dengan menggeser timeline yang sudah diatur dan mencatat banyaknya kedaraan yang melewati ruas jalan tersebut, sehingga diperoleh data-data jumlah kendaraan yang melalui ruas Jalan Imam Bonjol selama survei volume lalu lintas dilaksanakan. Data hasil perhitungan kemudian dimasukkan ke dalam formulir survei volume lalu lintas seperti pada Gambar 3.5 berikut.
Gambar 3.5 Formulir survei volume lalu lintas

3.4.4    Survei Kecepatan
Survei kecepatan dilaksanakan pada Hari Selasa, 28 Februari 2012 dilakukan dengan cara car moving observer (pengamat bergerak) yaitu survei yang menggunakan kendaraan yang dikemudikan menyusuri rute yang telah ditetapkan. Tiga orang pengamat dan seorang sopir dibutuhkan dalam survei ini. Kendaraan digerakkan pada kecepatan rata-rata kendaraan lainnya. Seorang pengamat di kendaraan itu mencatat banyaknya kendaraan yang didahului dan kendaraan lain yang mendahului kendaraan uji. Pengamat kedua mencatat banyaknya kendaraan yang berlawanan arah dengan kendaraan uji. Pengamatan dilakukan sebanyak 8 kali per arah pada jam-jam sibuk. Data-data yang diperlukan dapat dilihat pada formulir survei waktu perjalanan pada Gambar 3.6 berikut.
Gambar 3.6 Formulir survei waktu perjalanan

3.5       Analisis Data
1.      Volume  Lalu Lintas
Volume hasil penelitian dapat dihitung dengan rumus (2.5) sebagai berikut :
Q  =    

2.      Analisis Kecepatan Arus Bebas
Persamaan untuk kecepatan arus bebas sesuai dengan rumus (2.1) sebagai berikut (MKJI, 1997):
FV = (FVO +  FVw) x FFVSF x FFVCS
Dimana nilai faktor-faktor koreksi yang mempengaruhi dalam perhitungan dapat dilihat pada bab II, hal-14 sampai dengan hal-18.
      Kecepatan arus bebas ini digunakan untuk mencari tingkat kinerja suatu segmen jalan pada kondisi tertentu. Ukuran tingkat kinerja adalah kecepatan  dan derajat kejenuhan.

3.   Analisis Kapasitas
Persamaan dasar untuk menentukan kapasitas adalah berdasarkan rumus (2.2) sebagai berikut (MKJI, 1997):
C = CO x FCW x FCSP x FCSF x FCCS
Nilai faktor-faktor koreksi yang mempengaruhi dalam perhitungan dapat dilihat pada bab II, hal 18 sampai dengan hal 22.
Nilai kapasitas suatu ruas jalan baik setelah atau sebelum terjadinya tundaan lalu lintas adalah tetap.

4.   Analisis Derajat Kejenuhan
Persamaan yang dipakai sesuai dengan rumus (2.3) sebagai berikut (MKJI, 1997) :
DS   =    
Derajat kejenuhan (DS) dihitung dengan menggunakan arus dan kapasitas. DS digunakan untuk analisa tingkat kinerja ruas jalan yang berkaitan dengan volume, kepadatan dan kecepatan.

5.   Analisis Kecepatan Perjalanan
Berdasarkan rumus (2.4) kecepatan tempuh didefinisikan dalam manual ini sebagai kecepatan rata-rata ruang dari kendaraan ringan (LV) sepanjang segmen jalan (MKJI, 1997):
V  =    

 
 Keterangan :
V     =  kecepatan rata-rata ruang (km/jam)
L     =  panjang (km)
TT   =  waktu tempuh rata-rata sepanjang segmen (jam)

Untuk mencari kecepatan perjalanan sebelum terjadinya tundaan lalu lintas digunakan grafik kecepatan sebagai fungsi dari Q/C untuk jalan dua lajur dua arah tak terbagi (lihat Bab II Gambar 2.1) dengan memakai data derajat kejenuhan dan kecepatan arus bebas.


6.   Analisis Biaya Operasi Kendaraan
Biaya Operasi Kendaraan dihitung dengan model yang dikembangkan oleh LAPI-ITB (1997) bekerja sama dengan KBK (Rekayasa Transportasi), Jurusan Teknik Sipil, ITB). Perhitungan Biaya Operasi Kendaraan dilakukan untuk kedua kondisi (saat terjadi tundaan lalu lintas dan kondisi arus bebas) dengan memasukkan data kecepatan masing-masing ke dalam Rumus (2.8) samapi dengan (2.14) pada bab II, halaman 31-34. Nilai faktor-faktor koreksi yang mempengaruhi dalam perhitungan dapat dilihat pada Bab II, hal 31 sampai dengan hal. 32. Dalam studi ini, kendaraan yang dihitung biaya operasinya dibagi atas sepeda motor, kendaraan ringan dan kendaraan berat. Untuk BOK sepeda motor mengacu pada metode yang digunakan oleh DLLAJ Provinsi Bali-Konsultan PTS 1999.

7.   Analisis Nilai Waktu Perjalanan
Adanya perubahan kecepatan perjalanan maka waktu tempuh juga akan selalu berubah. Selisih waktu tempuh saat terjadinya tundaan lalu lintas dan kondisi arus bebas merupakan biaya perjalanan akibat tundaan yang terjadi. Dengan data pendapatan per kapita Kota Denpasar, rata-rata isian per kendaraan pada Tabel 2.20 dan berdasarkan referensi nilai waktu studi-studi terdahulu, maka besarnya nilai waktu perjalanan per penumpang atau per kendaraan dapat dihitung.

8.   Biaya Perjalanan Akibat Tundaan Lalu Lintas
Analisis biaya perjalanan akibat tundaan lalu lintas dihitung dengan Rumus (2.18) sebagai berikut (Apriana, 2006) :
        = ΣQ x ((t1 x (BOK1 + NW1)) – (t0 x (BOK0 + NW0)))


Tidak ada komentar:

Posting Komentar